KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi

judul post ini seperti seseorang sedang mengetik

kursor mengikuti

judul post ini seperti seseorang sedang mengetik.

Selasa, 14 April 2015

PETA KONSEP TEORI BELAJAR/ALUR BERPIKIR SISWA

HASIL REVIEW TEORI BELAJAR
A.  Behaviorism theory (Teori Behaviorisme)
1.    Pelopor Teori Belajar Behaviorisme
Tokoh behaviorisme antara lain: JB. Watson, Thorndike, dan BF. Skinner. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia sebagai hasil pembentukan melalui lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan pun dianggap sebagai pembentuk perilaku manusia. Sedangkan Thorndike berpendapat bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap (incremental) daripada karena hadirnya insight (pemahaman). Artinya belajar itu melalui langkah-langkah kecil yang sistematis daripada sebuah lompatan besar.
2.    Belajar menurut Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah  belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam teori ini tingkah laku dalam belajar akan berubah apabila ada stimulus dan respons. Stimulus dapat berupa perlakuan yang diberikan kepada siswa, sedangkan respons berupa tingkah laku yang terjadi pada siswa. Oleh karena itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavior adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon bila penguatan ditambahkan maka respon semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan itu justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar.
Penerapan teori behavirorisme yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behaviorisme justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
B.  Social Kognitif Theory ( Teori Sosial Kognitif)
Teori pembelajaran sosial adalah perkembangan utama dari tradisi teori pembelajaran perilaku (behaviorisme). Teori belajar sosial dikemukakan oleh seorang tokoh yang bernama Albert Bandura yang lahir pada tahun 1925 di sebuah kota kecil di provinsi Alberta, Canada. Teori pembelajaran sosial (social learning theory) dari Albert Bandura menerima kebanyakan prinsip teori perilaku (behavioristik), tetapi terfokus jauh lebih banyak pada efek isyarat pada perilaku dan pada proses mental internal, dengan menekankan efek pemikiran pada tindakan dan tindakan pada pemikiran. Bandura mengembangkan teori belajar sosial karena ia melihat keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh teori belajar behavioristik yang pada saat itu merupakan teori yang diterima oleh banyak kalangan.
1.    Prinsip faktor-faktor yang saling menentukan
Bandura menyatakan bahwa diri seorang manusia pada dasarnya adalah suatu sistem (sistem diri/self system). Sebagai suatu sistem bermakna bahwa perilaku, berbagai faktor pada diri seseorang, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam lingkungan orang tersebut, secara bersama-sama saling bertindak sebagai penentu atau penyebab yang satu terhadap yang lainnya. Berikut ini dijelaskan interaksi berbagai faktor pembentuk sistem diri (self sistem) pada sebuah bagan.


Interaksi Berbagai Faktor Pembentuk Sistem Diri
Keterangan :
P    = Singkatan dari Personal atau kepribadian seseorang
B   = Singkatan dari Berhavior atau perilaku seseorang
E    = Singakatan dari Environment atau lingkungan luar
Teori belajar sosial menekankan observational learning sebagai proses pembelajaran, yang mana bentuk pembelajarannya adalah seseorang mempelajari perilaku dengan mengamati secara sistematis imbalan dan hukuman yang diberikan kepada orang lain.Dalam teori menjelaskan hubungan timbal balik yang saling berkesinambungan antara kognitif , perilaku ,dan lingkungan. Dalam skema diatas dapat kita lihat,bahwa antara behavioral, environment, dan perception sangatlah memberikan andil dalam proses pembelajaran sosial kita.
Jadi antara behavioral, environment, dan perception sangatlah bergantung satu sama lain,ketiga komponen tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Namun antar ketiga komponen itu saling memberikan pengaruh atau saling memberikan perannnya dalam terlaksananya teori pembelajaran sosial.
2.    Kemampuan untuk membuat atau memahami simbol/tanda/lambang
Bandura menyatakan bahwa orang memahami dunia secara simbolis melalui gambar-gambar kognitif, jadi orang lebih bereaksi terhadap gambaran kognitif dari dunia sekitar dari pada dunia itu sendiri. Perilaku-perilaku yang mungkin diperlihatkan akan dapat diduga, diharapkan, dikhawatirkan, dan diuji cobakan terlebih dahulu secara simbolis, dalam pikiran, tanpa harus mengalaminya secara fisik terlebih dahulu. Karena pikiran-pikiran yang merupakan simbol atau gambaran kognitif dari masa lalu maupun masa depan itulah yang mempengaruhi atau menyebabkan munculnya perilaku tertentu.
a.    Kemampuan berpikir ke depan
Orang dapat menduga bagaimana orang lain bisa bereaksi terhadap seseorang, dapat menentukan tujuan, dan merencanakan tindakan-tindakan yang harus diambil untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
b.   Kemampuan untuk seolah-olah mengalami apa yang dialami oleh orang lain
Orang-orang, terlebih lagi anak-anak mampu belajar dengan cara memperhatikan orang lain berperilaku dan memperhatikan konsekuensi dari perilaku tersebut. Inilah yang dinamakan belajar dari apa yang dialami orang lain.
c.    Kemampuan mengatur diri sendiri
Perilaku ini tidak dikerjakan tidak selalu untuk memuaskan orang lain, tetapi berdasarkan standar dan motivasi yang ditetapkan diri sendiri. Tentu saja orang akan berpengaruh oleh perilaku orang lain, namun tanggung jawab utama tetap berada pada diri sendiri.
d.   Kemampuan untuk berefleksi
Mereka umumnya mampu memantau ide-ide mereka dan menilai kepantasan ide-ide tersebut sekaligus menilai diri mereka sendiri.

3.    Pembelajaran Pengamatan (Observational Learning) dalam Teori Belajar Sosial Bandura
Karakteristik dari belajar sosial, yang terbukti sangat penting dan efisien adalah seorang dapat belajar dengan cara memperhatikan model beraksi dan membayangkan seolah-olah ia sebagai pengamat, mengalami sendiri apa yang dialami oleh model. Dari sudut pandang Bandura, orang/pengamat tidak hanya sekedar meniru perilaku orang lain (model), namun mereka memutuskan dengan sadar untuk melakukan perilaku yang dipelajari dari mengamati model.
Menurut Bandura model dan mengulangi perilaku yang dilakukan oleh model bukanlah sekedar imitasi sederhana; pembelajaran observasi juga melibatkan proses kognitif aktif yang meliputi 4 komponen yaitu: atensi, retensi, reproduksi dan motivasi

4.    Konsep-Konsep Penting dalam Kepribadian menurut Bandura
a.    Sistem Diri (Self System)
Bandura mengajukan sebuah konsep yang memiliki peran penting dalam kepribadian, yang ia sebut dengan self-system, satu set proses kognitif yang individu gunakan untuk mempersepsi, mengevaluasi, dan meregulasi prilakunya sendiri agar sesuai dengan lingkungannya dan efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, individu tidak hanya dipengaruhi oleh proses reinforcement eksternal yang disediakan lingkungan, tetapi juga oleh ekspektasi, reinforcement, pikiran, rencana, tujuan atau proses internal dari diri. Aspek kognitif yang aktif dalam diri individu sangat penting dalam pembelajaran. Selain berespon terhadap reinforcement langsung dengan mengubah prilaku di masa depan, orang dapat berpikir dan mengantisipasi pengaruh dari lingkungan. Individu dapat mengantisipasi konsekuensi yang mungkin akan timbul dari perilakunya sehingga mereka memilih tindakan berdasarkan respon yang dihadapkan dari lingkungan dan masyarakat.
b.   Efikasi Diri (Self Efficacy)
self-efficacy adalah ekspektasi keyakinan (harapan) tentang seberapa jauh seseorang mampu melakukan satu perilaku dalam suatu situasi tertenu. Self-efficacy yang positif adalah keyakinan untuk mampu melakukan perilaku yang dimaksud. Tanpa Self-efficacy (keyakinan tertentu yang sangat situasional), orang bahkan enggan mencoba melakukan suatu perilaku. self-efficacy menentukan apakah kita akan menunjukkan perilaku tertentu, sekuat apa kita dapat bertahan saat menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan bagaimana kesuksesan atau kegagalan dalam satu tugas tertentu mempengaruhi perilaku kita di masa depan.
5.    Implikasi Teori Bandura dalam Pembelajaran
Proses pembentukan perilaku dari tidak suka belajar menjadi suka belajar dapat dilakukan melalui banyak cara, diantaranya adalah dengan modeling. Kalau siapapun yang ada di rumah atau di ingkungan anak sudah terbiasa belajar sejak kecil maka hal ini akan diobservasi oleh anak secara terus menerus dalam hidupnya. Kemudian anak ini difasilitasi dengan banyak media baik yang alami maupun buatan untuk mendorong minat belajarnya,misalnya berupa buku bacaan, buku tulis dan kelengkapannya, serta media cetak atau audio visual yang ditata secara menarik di rumah atau kelompok kelompok belajar yang ada. Orang tua atau guru atau pembimbing berperan ganda, sebagai model sekaligus sebagai pamong belajar. Tanpa ada ancaman, hukuman, ketegangan, ketakutan akan membuat anak nyaman, tenang, untuk belajar dengan pamongnya. Dominansi kasih sayang, kelembutan, contoh yang nyata, kejujuran, kesantunan, pujian, penghargaan, senyuman akan sangat mendorong munculnya perilaku yang diharapkan. Kesinambungan proses seperti ini akan mengkristal dalam jiwa dan pikir anak sehingga menjadi perilaku yang permanen dalam hidupnya. Tidak akan mudah lekang oleh waktu dan tuntutan zaman yang semakin tidak karuan.
Dengan metode observasi dan modeling yang menjadi ciri utama Teori Bandura  siswa dapat belajar sambil menikmati indahnya alam sekitar ciptaan Yang Maha Pencipta, siswa dapat menghirup segarnya udara di luar kelas dengan sepuas puasnya. Siswa dapat mengembalikan kebugaran fisiknya dengan mengamati banyak objek alami dan fenomena fenomena baru dibawah bimbingan gurunya.Siswa dapat berdiskusi dan adu argumentasi setelah menemukan banyak data di lapangan yang dituliskan dalam tabel pengamatan. Siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan baru (inquiry) setelah mengamati dan berdiskusi serta tambahan informasi dari teman dan gurunya. Mereka tidak akan merasakan lelah atau terlalu  lama belajar langsung di alam atau mengamati langsung objek belajar yang asli atau alami. Sekaligus guru dapat memberi penilaian yang sebenarnya dari kemampuan para siswanya setelah melihat, mendengar, mendiskusikan masalah, mengumpulkan data dan  menarik kesimpulan bersama seluruh siswanya. Kondisi siswa yang seperti ini penting untuk dapat mengatasi kejenuhan fisik maupun psikis siswa dalam belajar, karena di metode belajar ini guru mengaitkan  langsung  antara materi pelajaran dengan alam ( yang memiliki komponen biotic berupa makhluk hidup dan komponen abiotik berupa benda mati ) atau kehidupan sehari hari.
Memang diperlukan persiapan dan ketangguhan profesi dari sang guru atau orangf tua  baik berupa fisik maupun psikis dalam menerapkan konsep belajar ini. Hal ini disebabkan karena akan munculnya banyak kreatifitas dan kenyataan kenyataan baru dari konsep ilmu yang diperoleh siswa, yang berbeda jauh dengan teori yang ada di buku atau media belajar cetak maupun elektronik yang lain. Guru akan menjadi sangat capek karena harus melayani banyaknya pertanyaan dan temuan temuan siswa yang mulai tumbuh pola berpikir analitik dan sintetiknya. Kemudian siswa akan terus memburu untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan ini,disini kemampuan guru ditantang untuk dapat mengelola setiap permasalahan yang diajukan. Guru dapat menghantarkan siswa untuk membuka buku buku sumber yang ada  pada siswa atau di perpustakaan, membuka internet, memberi kesempatan diskusi pada kelompok, sebelum akhirnya kesimpulan yang benar akan diperoleh dibawah bimbingan guru.

C.  Kognitif Information Processing
Suatu proses yang menyebabkan suatu informasi dapat diingat ataupun dilupakan disebut sebagai suatu model pengolahan informasi. Informasi pertama ditangkap oleh rekaman indera yang diterima oleh masing-masing yakni komponen pertama dalam sistem daya ingat. Setelah itu informasi akan diberi perhatian dan dipindahkan dari rekaman indera ke daya ingat kerja. Daya ingat ini dibagi menjadi daya ingat jangka pendek dan daya ingat jangka panjang. Daya ingat jangka pendek dapat menahan informasi dalam jumlah terbatas hanya bertahan selama beberapa detik (hanya saat itu dipikirkan). Sedangkan daya ingat jangka panjang dapat menahan informasi dalam jumlah banyak atau dapat disimpan dalam kurun waktu yang lama. Daya ingat jangka panjang ini terbagi menjadi tiga bagian diantaranya daya ingat episodik (dari pengalaman pribadi), daya ingat semantik (dari fakta dan pengetahuan umum), dan daya ingat prosedural (dari informasi dalam melakukan sesuatu).
Terdapat beberapa faktor  yang menghambat dan menyebabkan orang dapat mengingat dan melupakan diantaranya gangguan (karena adanya informasi lain dalam daya ingat), hambatan retroaktif (karena adanya pembelajaran informasi baru yang di terima), hambatan proaktif (karena gangguan dari pengetahuan yang sudah ada), dan fasilitasi (karena kehadiran informasi yang diperoleh sebelumnya). Serta faktor lain yang menghambat adalah efek kepertamaan dan kebaharuan artinya lebih mudah mengingat hal yang pertama atau terakhir dalam daftar daripada hal lain, otomatisasi artinya tingkat kecepatan dan kemudahan sehingga tugas-tugas dapat dilakukan atau keterampilan dapat dibekali dengan sedikit upaya mental. Selain daripada hambatan yang dapat melupakan adapula hal-hal yang dapt membuat seseorang mengingat yakni diantaranya dengan latihan yakni metode yang paling umum untuk menempatkan informasi kedalam daya ingat.
Strategi daya ingat dapat diajarkan diantaranya dengan pembelajaran verbal (pembelajaran kata-kata), pembelajaran pasangan-berkaitan, pembelajaran serial (penghafalan serangkaian hal dalam suatu urutan tertentu), dan pembelajaran ingatan bebas (pembelajaran daftar hal dalam urutan sembarang). Informasi yang diterima akan bermakna bila tidak bersifat sewenang-wenang dan hal itu terkait dengan informasi atau konsep yang sudah dimiliki oleh seseorang. Informasi yang bermakna pun akan disipan dalam daya ingat jangka panjang dalam jaringan fakta dan konsep  yang saling terkait yang dapat disebut skemata.
Kemampuan metakognisi dapat membantu siswa dalam belajar. Metakognisi sendiri merupakan pengetahuan tentang pembelajaran diri sendiri  atau cara belajar. Artinya siswa dapat diajarkan untuk menilai pemahaman pada diri sendiri dengan cara mencari tahu berapa banyak waktu yang akan mereka butuhkan untuk  mempelajari sesuatu dan memilih rencana tindakan yang efektif untuk mempelajari sesuatu.
1.    Penerapan Dalam Pendidikan
Tidak seperti teori belajar yang lain, teori pengolahan informasi sebagai suatu bidang pengetahuan tidak diterjemahkan secara langsung untuk keperluan pelaksanaan kurikulum. Penerapannya di kelas cenderung menggunakan suatu konstruk tertentu, konsep, asas, atau kaidah dalam suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya konsep skema dan penggunaan elaborasi telah dipakai dalam mengajarkan membaca. Sedangkan hasil-hasil dari penelitian pemecahan masalah diterapkan dalam pelajaran sains dan matematika.
Soal-soal pelajaran dikelas oleh teori pengolahan informasi ialah yang ada kaitannya secara langsung dengan proses kognitif. Dalam pengelolaan belajar di kelas, menurut teori ini harus dicari tahu perbedaan antar individu, Kesiapan peserta didik untuk belajar, dan motivasi peserta didik mengikuti pelajaran di kelas. Teori pengolahan informasi memberikan persepektif baru dalam pengelolaan pembelajaran yang akan menghasilkan belajar yang efektif. Terutama dalam hal proses kognitif dalam pembelajaran, meliputi :
a.    Mengajarkan pemecahan masalah
b.    Konteks sosial untuk belajar.
Mengembangkan rencana pembelajaran di kelas. Arti penting rancangan pembelajaran dalam pengolahan informasi ialah bahwa makna logis pengetahuan itu diubah menjadi makna psikologi. Makna logis ialah hubungan antara lambang, konsep, dan aturan mengenai bidang ajaran. Makna psikologis ialah hubungan antara lambag, konsep, dan aturan dengan struktur kognitif siswa.
D.  Meaningful Learning Theory(Teori Belajar Bermakna)
David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang terkenal dengan teori belajar bermakna (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Pembelajaran bermakna terjadi apabila seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Dalam proses belajar seseorang mengkonstruksi apa yang telah ia pelajari dan mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam struktur pengetahuan mereka.
Empat tipe belajar menurut Ausubel, yaitu:
1.      Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
2.      Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
3.      Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
4.      Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.
1.      Langkah-langkah Belajar Bermakna Menurut Ausubel
2.      Menentukan tujuan pembelajaran.
3.      Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya).
4.      Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.
5.      Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.
6.      empelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
7.      Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
E.  Development Approach (Pendekatan Perkembangan Kognitif)
Pendekatan ini di dasarkan pada asumsi atau keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Kunci untuk memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada tiga model perkembangan kognitif ini, yakni:
1.    Model dari Piaget
Piaget berpendapat bahwa perkembangan manusia dapat di gambarkan dalam konsep fungsi dan struktur. Fungsi merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang atau kecendrungan-kecendrungan biologis untuk mengorganisasi pengetahuan kedalam struktur kognisi, dan untuk beradaptasi kepada berbagai tantangan lingkungan. Tujuan dari fugsi-fungsi itu adalah menyusun struktur kognitif internal. Sementara struktur merupakan interasi (saling berkaitan) system pengetahuan yang mendasari dan membimbing tingkah laku inteligen. Struktur kognitif diistilahkan dengan konsep skema, yakitu seperangkat keterampilan, pola-pola kegiatan yang fleksibel yang denganya anak memahami lingkungan. Piaget mengelompokkannya sebagai berikut:
a.    Organisasi, yang merujuk pada fakta bahwa semua struktur kognitif berinterelasi, dan berbegai pengetahuan baru harus diselaraskan ke dalam system yang ada.
b.    Adaptasi, yang merujukkan pada kecendrungan organisme untuk menyelaraskan dengan lingkungan. Adaptasi ini terdiri atas dua subproses: (1) Asimilasi, yaitu kecendrungan untuk memehami pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada; (2) Akomodasi, yaitu perubahan struktur kognitif krena pengalaman baru. Keadaan saling mempengaruhi antara asimilasi dan akomodasi melahirkan konsep konstruktifisme, yaitu bahwa anak secara aktif menciptakan pengetahuan, dalam arti anak tidak hanya menerima pengetahuan secarapasif dari lingkungan.
2.    Model Pemprosesan Informasi
Pendekatan ini merumuskan bahwa kognitif manusia sebagai suatu system yang terdiri atas tiga bagian: (1) input, yaitu proses informasi dari lingkungan atau stimulasi yang masuk kedalam reseptor-reseptor panca indra dalam betuk penglihatan, suara, dan rasa; (2) Proses, yaitu pekerjaan otak untuk mentransformasikan informasi atau stimulus dalam cara yang beragam; (3) Output, yang berbentuk tingkah laku, seperti bicara,menulis, interaksi sosial, dan sebagainya.
3.    Model Kognisi Sosial
Kognisi sosia dapat di artikan sebagai pengetahuan tentang lingkungan sosia dan hubungan interpersonal. Model ini menekankan pada dampak/pengaruh pengalaman sosial terhadap  pperkembangan kognitif. Tokoh dari pendekatan ini adalah Lev Vygotsky (1886-1934) ahli psikologi dari rusia.

F.   Social Formation Theory (Teori Pembentukan Kelompok sosial)
Ada beberapa teori yang dapat dikemukakan berkaitan dengan pembentukan kelompok. yaitu:
1.    Teori Kedekatan (Propinquity)
Teori kedekatan menjelaskan tentang adanya aliansi diantara orang-orang tertentu. Seseorang berhubungan dengan orang lain disebabkan karena adanya kedekatan ruang dan daerahnya.
2.    Teori Interaksi (George Homans)
a.    Teori interaksi berdasarkan pada aktivitas, interaksi dan sentiment (perasaan atau emosi) yang berhubungan secara langsung. Ketiganya dapat dijelakan sebagai berikut:
Semakin banyak aktivitas seseorang dengan orang lain, semakin beraneka interaksinya dan semakin kuat tumbuhnya sentiment mereka.
b.    Semakin banyak interaksi diantara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas dan sentiment yang ditularkan pada orang lain.
c.    Semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain, dan semakin banyak sentiment orang dipahami oleh orang lain, maka semakin banyak kemungkinan ditularkannya aktivitas dan interaksi-interaksi.
3.    Teori Keseimbangan (Theodore Newcomb)
Teori keseimbangan menyatakan bahwa seseorang tertarik kepada yang lain adalah didasarkan atas kesamaan sikap (seperti: agama, politik, gaya hidup, perkawinan, pekerjaan, otoritas) di dalam menanggapi suatu tujuan.
4.    Teori Pertukaran
Teori ini ada kesamaan fungsinya dengan teori motivasi dalam bekerja. Teori kedekatan, interaksi, keseimbangan, semuanya memainkan peranan di dalam teori ini.
Secara praktis pembentukan kelompok bisa saja terjadi dengan alasan ekonomi, keamanan, atau alasan social. Para pekerja umumnya memiliki keinginan afiliasi kepada pihak lain.
Karakteristik yang menonjol dari suatu kelompok antara lain:
a.    Adanya dua orang atau lebih
b.    Berinteraksi satu dengan yang lain
c.    Saling berbagi beberapa tujuan yang sama
d.   Melihat dirinya sebagai suatu kelompok.
Suatu kelompok bisa dinamakan kelompok sosial bila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama)
2.      Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (Akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat)
3.      Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing.
4.      Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
G. Representation and Discovery Learning.
Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model pembelajaran/belajar kognitif yang dikembangkan oleh Jerome Brunner (1996). Menurut Bruner, belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar benar bermakna.
Menurut Brunner, belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.  Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukan sendiri, bukan hanya menerima penjelasan dari guru saja.
Brunner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar di mana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antar kosep. Menurut Brunner,  belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
3.    Tahapan-tahapan penerapan belajar penemuan
a.    Stimulus (pemberian perangsang), kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk  membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b.    Problem statement (mengidentifikasi masalah), memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis tersebut.
c.    Data collection (pengumpulan data), memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut.
d.   Data processing (pengolahan data), memberikan bimbingan terhadap data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi atau lain-lain.
e.    Verifikasi, mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
f.     Generalisasi, mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi.
H.  Constructivism approach (Pendekatan Konstruktivisme)
Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri.Manusia menkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan mereka.
Dapatlah dirumuskan secara keseluruhannya pengertian atau maksud pembelajaran secara konstruktivisme adalah pembelajaran yang berpusatkan kepada siswa. Guru berperan sebagai penghubung yang membantu siswa membina pengetahuan dan menyelesaikan masalah. Guru berperan sebagai pereka bentuk bahan pembelajaran yang menyediakan peluang kepada siswa untuk membina pengetahuan baru. Pengetahuan yang dimiliki siswa adalah hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dan bukannya pembelajaran yang diterima secara pasif.
1.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Konstruktivisme
a.    Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif
b.    Tekanan dalam proses pembelajaran terletak pada siswa
c.     Mengajar adalah proses membantu siswa
d.   Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir
e.    Kurikulum menekan pada orientasi siswa
f.     Guru adalah fasilitator

I.     Pedekatan Sosial (The Sosial Approach)
Pendekatan yang memperhatikan faktor lingkungan sebagai lingkungan tinggal individu dalam perkembangannya. Titik pangkal dari Approach Sosial ialah mayarakat dengan berbagi lembaganya, kelompok-kelompok dengan berbagai aktivitas. Secara konkrit Approach Sosial ini membahas aspek-aspek atau komponen dari pada kebudayaan  manusia, misalnya keluarga, tradisi, adat istiadat, moralitas, norma-norma sosialnya dan sebagaimana. jadi segala sesuatu yang dianggap produk bersama, milik bersama adalah masyarakat. Tingkah laku individu dapat dipahami dengan memahami tingkah laku masyarakatnya. Misalnya, pada waktu lahir dengan pertolongan bidan, atau dukun bayi, upacara-upacara yang dia lakukan untuk si bayi, apabila anak sudah mulai bicara diajar tatakrama keluarga dan masyarakat. Misalnya bagimana cara makan dan minum, bagaiman cara berpakain dan sebagainya.
J.    Technological Aproach
Pembelajaran dikatakan menggunakan pendekatan teknologis apabila menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan dan menilai. Selain itu pendekatan ini mengejar kemampuan tertentu dan menuntut peserta didik agar mampu melaksanakan tugas-tugas tertentu yang sudah diajarkan , sehingga proses dan rencana hasilnya diprogram sedemikian rupa agar pencapaian hasil pembalajaran dapat dievaluasi dan dapat diukur dengan jelas dan terkontrol. Dari rancangan proses belajar hingga pencapaian hasil diharapkan terlaksana dengan efektif, efisien dan memiliki daya tarik.
Teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses . Sebagai contoh suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit dari sini juga kita lebih memahami bahwa pendekatan tekhnologi bersifat konkret.
Terdapat tiga prinsip dasar dalam teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatannya, yaitu : Pendekatan sistem, berorientasi pada peserta didik, dan pemanfaatan sumber belajar.
Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu diseain / perancangan dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang pembelajaran diperlukan langkah-llangkah prosedural meliputi : identifikasi masalah, analisis keadaan, identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran, penetapan metode, penetapan media evaluasi pembelajaran.
Prinsip berorientasi pada peserta didik beratri bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatiannya pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari peserta didik. Prinsip pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran siswa hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya.
Satu hal lagi lagi bahwa teknologi pendidikan adalah satu bidang yang menekankan pada aspek belajar peserta didik. Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dalam satu kegiatan pendidikan adalah bagaimana siswa dapat belajar, dengan cara mengidentifikasi, mengembangkan, mengorganisasi, serta menggunakan segala macam sumber belajar. Dengan demikian upaya pemecahan masalah dalam pendekatan teknologi pendidikan adalah dengan mendayagunakan sumber belajar.
 K. HUBUNGAN BERBAGAI MACAM TEORI BELAJAR
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat. Oleh karena itu mempelajari teori dan prinsip belajar dapat membimbing aktifitas kita dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dalam perencanaan pembelajaran teori-teori pembelajaran dapat menggunakan batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan penerapannya dapat membantu seorang guru dalam memilih tindakan yang tepat. Dalam membelajarkan siswa sebenarnya telah banyak teori belajar sebagai dasar berpijak dalam proses belajar. Teori-teori belajar bermunculan seiring dengan perkembangan teori psikologi. Menurut hemat saya ada 4 teori belajar yang paling utama. Pertama pada awalnya muncul lah teori Behaviorisme, teori ini menganalisis manusia hanya dari sisi perilakunya yang tampak, sebab hanya perilaku yang tampak yang bisa diukur, dilukiskan dan dijelaskan. Menurut Behaviorisme teori yang paling menonjol mengenai manusia adalah teori belajar behavioristik. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang diamati, diukur dan dinilai secara konkrit. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulan yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkugan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus – respon). Dalam pelaksanaannya teori belajar ini masih memasukan lingkungan sosial sebagai sumber belajar dan menekan juga pembelajaran yang bermakna dimana suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

Namun seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, teori tersebut mempunyai beberapa kelemahan, yang menuntut adanya pemikiran teori belajar yang baru. Dikatakan bahwa, teori-teori behaviorisme itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingaga terkesan seperti kinerja mesin atau robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai kelemahan teori behaviorisme. Teori behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Kedua Teori pembelajaran sosial adalah perkembangan utama dari tradisi teori pembelajaran perilaku (behaviorisme). teori kognisi sosial memahami perilaku manusia kita harus memahami bahwa manusia dapat berpikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Selain itu, banyak aspek fungsi kepribadian yang melibatkan interaksi individu dengan individu lainnya. Perilaku seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. Salah satu asumsi awal yang mendasasi teori kognitif sosial Bandura adalah manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari beragam kecakapan bersikap maupun berperilaku. Dan titik pembelajaran terbaik dari semua adalah pengalaman-pengalaman tak terduga.
Ketiga. Teori belajar perkembangan kognitif ini memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Menurut Jean Piaget, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu
a.       Asimilasi yaitu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif  yang sudah ada dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa), dengan prinsip perkalian (sebagai  informasi baru) itu yang disebut asimilasi.
b.      Akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
c.        Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara “dunia dalam” dan “dunia luar”.
Keempat. pembelajaran secara konstruktivisme adalah pembelajaran yang berpusatkan kepada siswa. Guru berperan sebagai penghubung yang membantu siswa membina pengetahuan dan menyelesaikan masalah. Guru berperan sebagai pereka bentuk bahan pembelajaran yang menyediakan peluang kepada siswa untuk membina pengetahuan baru. Pengetahuan yang dimiliki siswa adalah hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dan bukannya pembelajaran yang diterima secara pasif. Untuk Social Approach (Pendekatan Sosial, Meaningfull Learning Theory (Teori Pembelajaran Bermakna, Cognitive Information Processing (Proses Informasi Kognitif), Representation and Discovery Learning (Pembelajaran Representasi dan Penemuan), Technological Approach (Pendekatan Teknologi), Social Formation Theory  (Teori Formasi Sosial) semua pendekatan ini sudah terdapat didalam teori belajar diatas.

L.  PETA KONSEP HUBUNGAN BERBAGAI MACAM TEORI BELAJAR




      




                                                                                                                                         


 
DIRIKU YANG  AKAN DAN SEDANG MEMBANGUN TEORI
TENTANG LEARNING TRAJECTORY

Hari ini Selasa tanggal 7 April 2014 kelas saya P2TK Pendidikan dasar melaksanakan perkuliahan yang merupakan pertemuan ke -8 mata kuliah pengembangan Learning Trajectory yang diampu oleh bapak Prof. Marsigit. Seperti biasa  beliau selalu menyapa kami dengan hangat sambil bersenda gurau, dan tak lupa selalu mengingatkan kami untuk berdoa dan merekam aktivitas kuliah hari ini. Dan materi yang akan disampaikan bapak Marsigit hari ini adalah tentang Learning Trajectory.
Dalam bahasa filsafat tujuan hidup itu adalah sopan dan santun terhadap ruang dan waktu. Maksudnya adalah karena manusia bersifat terbatas, tidak ada yang bisa mencapai sopan dan santun terhadap ruang dan waktu secara absolut. Jikalau ada hanya orang-orang terpilih yang bisa mencapainya. Yang berarti orang sempurna. Yang bisa menyesuaikan setiap ruang dan waktu. Jadi tidak ada manusia yang sempurna. Karena sebenar-benar hidup adalah kesempurnaan didalam ketidak sempurnaan. Kelebihan dalam kekurangannya. Merdeka dalam keterbatasannya. Sosial didalam indivudulaitasnya, serta menjaga hubungan yang baik dengan sang pencipta ALLAH SWT dan hubungan yang harmonis antara sesama manusia. Dan tak lupa pula tetap berusaha didalam takdir yang sudah digariskan Allah. Tidak boleh berputus asa. Jangan hanya mengejar kehidupan duniawi saja. Karena kehidupan yang kekal adalah di hakirat kelak. Kalau kita selalu menuruti kemalasan maka akan terjadi bencana dalam diri kita sendiri. Karena dalam falsafah jawa sudah dijelaskan bahwa konsep hidup adalah keseimbangan, selaras, diam dalam gerak, gerak dalam diam.
Kaitannya dengan PBM, kita sebagai guru harus terlebih dahulu mengerti akan diri kita sendiri,maksudnya mengerti akan tugas dan tanggung jawab kita, kalau itu sudah tercapai maka kan mudah untuk mengerti siswa kita sendiri. Siswa juga memiliki keterbatasannya. Namun juga memiliki ketetapannya ada absolutnya, semakin keatas semakin absolut semakin tinggi semakin tungggal, yaitu kuasa Tuhan. Semakin ke bawah semakin banyak. Urusan dunia adalah plural. Jika dijadikan satu maka akan menjadi musibah/bencana. Hakekatnya didunia adalah plural dan tidak bisa ditunggalkan. Hakikatnya anak kecil itu tidak bisa menjawab dan berbuat salah atau keliru. Karena anak masih belajar. Didalam filsafat ada sebuah aliran valibisme yaitu keliru itu adalah benar. Begitu juga dengan siswa. terutama siswa sekolah dasar, masih belajar. Kita sebagai guru mengetahui dan memahami karakteristik siswa.
Bapak Marsigit mengatakan bahwa di dalam pendidikan kita Learning Trajectory baru terlaksana sebahagian karena sebahagian lagi adalah teaching Trajectory. Didalam learning Trajektori terdapat berbagai bentuk yaitu
1.      Material
·         Konteks (fisik/artefak) dan konten
·         Lingkungan dan budaya
·         Didalam matematika, bisa disebut etnomatematik/matematik berbasis budaya
·         Perangkat pembelajaran
Sudah tugas guru, untuk menggali yang dalam bentuk filsafat, paradigma, teori, dari sana konten materialnya/fenomenanya atau datanya atau pengalamannya. Kemudian guru menggabungkan antara teori yang ada pada normatif diambil dari referensi dengan material dalam praktek pembelajaran yang bersifat langsung dan tidak langsung. Atau simulasi dalam bentuk video.
2.      Formal
·         UUD 1945
·         Pancasila
·         UU
·         PP
·         Permen
·         Kurikulum
·         Silabus
·         RPP
·         LKS
·         Assesmen
3.      Normatif
·         Kuliah
·         Blog
·         Makalah ilmiah
·         Jurnal
·         Penelitian
·         Buku
·         Filsafat
Karena pada prinsipnya aspek normatif adalah filsafat atau pikiran kita sendiri. Yang meliputi hakikat, metode serta aspek etik dan estetika. Dalam hakikat filsafat itu terdapat wadah dan isi. Tiada wadah tanpa isi, tiada isi tanpa wadah. Untuk mengetahui cara berpikir siswa, kita perlu mengetahui hak siswa dalam pembelajaran itu sendiri.  Kita eksplor, kita selidiki atau teliti, bagaimana kedudukan siswa dalam pembelajaran. Dalam filsafat atau hakekatnya, merentang dari lingkungan budaya indonesia/jawa, secara filosofi, muncullah ajaran ing ngaso sung tulodo, ing madya mangun karsa dan tut wuri handayani. Arti dari semboyan ini adalah: ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan)
4.      Spiritual
·         Syariat
·         Hakikat
·         Ma’rifat
Untuk mengetahui cara berfikir diri seorang siswa, siswa sebagai warga Negara. Negara menjamin haknya yaitu hak memperoleh pendidikan, hak mendapatkan kesejahteraan. Keselamatn, kecerdasan dan setrusnya.Tugas kita sebagai guru untuk meneiliti kedudukan siswa. Dimensi yang paling tinggi yaitu spiritual. Dimensi ini sangat jelas terutama hubungan makhluk dengan penciptanya. Kita sebagai makhluknya harus bisa menjalankan dan meninggalkan apa yang disyariatkannya. Supaya kita bisa menjadi manusia yang hakiki, yaitu manusia yang sebenar-benar manusia. Yang menjaga hubungan dengan penciptanya serta hubungan manusia dengan manusia itu sendiri. Kalau itu semua sudah seimbang maka insya Allah. Kasih saying dan ridha allah disetiap langkah dan helaan nafas kita akan selalu ada.

Sehingga setelah di interaksikan antara teori dan praktek maka diperolehlah sebenar-benar bangunan hermenetika learning trajectory. hidupku adalah aku dalam lingkunganku. Kalau tidak memperhatikan lingkungan hati tidak akan tenang. Akan bermasalah Maka anti sosial.Setelah memahami hermenetika setiap titik mengandung tiga unsur yaitu unsure rutin, rutin itu adalah kodrat yang diperoleh. Sadar terhadap ruang dan waktu dengan melakukan penelitian, dan ilmu yang diperoleh membangun hidupku. Maka hidupku penuh dengan ikhtiar dalam kodratnya. Dimana rutinitas dalam hidup biasa kita hidup sebagai fatal. Sedangkan sadar dan membangun hidup kita sebut sebagai vital jadi wujudnya adalah meneliti seperti saintifik, problem solving. Jadi sebenar-benar hidup adalah membangun teori, kita harus membangun teori setiap waktu, agar tidak termasuk orang-orang yang merugi. Maka dengan rutin membaca secara tidak langsung tanpa terasa sudah membangun teori, kalau sudah dikembangkan membangun hidup. Maka sebenar-benar belajar adalah membangun. Jadi peran guru adalah bagaimana memberi fasilitas, rauang dan waktu untuk siswa agar bisa membangun. Jangan didogma dengan otoriter, dengan memaksa kehendak. Setelah itu semua terlaksana dengan baik maka akan lahirlah hermenitka learning trajectory. 

Rabu, 01 April 2015

Tanggapan VTR ( Team Teaching) di putar saat kuliah Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar

NAMA                       : MUSMALYADI
NIM                            : 14711259018
KELAS                      : PD P2TK DIKDAS
MATA KULIAH      : Pengembangan Learning Trajectory Pendidikan Dasar
1.        Tuliskan komentar tentang vidio pembelajaran yang sudah ditonton
2.        Tuliskan pertanyaan tentang vidio
3.        Tuliskan kelebihan dan kekurangan metode dan perangkat pembelajaran lainnya yang selama ini saya praktikan dan seberapa jauh saya belajar dari vidio untuk mempengaruhi dan memperbaiki praktek pembelajaran siswa
1.        Komentar saya setelah menonton vidio pembelajaran di sebuah sekolah di Jepang adalah:
Ø Pembelajaran dilaksanakan di kelas III dengan materi perkalian. Didalam vidio tersebut terlihat jelas bahwa guru ketika membuka pembelajaran melakukan tanya jawab dengan siswa. Untuk membuka skemata siswa guru melakukan tanya jawab dengan memajang media pembelajaran berupa tabel perkalian. Disana terlihat siswa sangat antusias ketika memulai pembelajaran untuk bertanya dan menjawab pertanyaan, mereka tidak ada kecanggungan dalam berpendapat ataupun mengajukan pertanyaan.
Ø Kemudian disaat proses pembelajaran siswa sangat aktif berdiskusi dan berusaha menemukan jawaban LKS yang diberikan guru. Guru memberikan kebebasan kepada setiap siswa untuk menemukan konsep materi pelajaran, sehingga setiap siswa menemukan konsep sesuai kemampuan masing-masing siswa. Guru terlihat jelas sekali melaksanakan tugasnya sebagai fasilitator yang selalu membantu/ membimbing siswa yang kesulitan dalam mengerjakan LKS. Tak jarang juga guru terlihat sanat perhatian terhadap siswanya dengan mengusap lembut kepala siswa. Selanjutnya antar guru tak lupa melakukan  refleksi tentang materi pembelajaran.
Ø Yang juga tak kalah menarik adalah pada akhir pembelajaran dimana siswalah yang menyimpulkan pembelajaran, guru hanya memberi penguatan atas apa yang sudah disimpulkan siswa.
2.        Tuliskan pertanyaan tentang vidio
Ø Didalam pembelajaran terlihat jelas bahwa siswa sangat antusias dan berani berbicara baik menjawab atau mengajuka pertanyaan.
Pertanyaan saya adalah bagaimana strategi guru untuk bisa membuat siswa berani untuk berbicara baik bertanya atau menjawab pertanyaan?
Ø Bagaimana cara membimbing dan mengajar siswa yang mempunyai prestasi yang tinggi dalam matematika?
3.        Kelebihan dan kekurangan metode dan perangkat pembelajaran lainnya yang selama ini saya praktikan.
Didalam pembelajaran yang selama ini saya laksanakan pada umumnya disetiap pembelajaran saya menggunakan Metode ceramah dalam menyampaikan materi pembelajaran. Hal ini terjadi karena saya biasanya belum merasa puas jika dalam mengelola pembelajaran tidak melalukan ceramah. Begitu pula dengan para siswa saya, pada umumnya mereka masih terbiasa dengan dengan metode ini, sehingga mereka beranggapan ada guru berceramah di kelas berarti ada pelajaran, tidak ada guru berceramah di kelas berarti tidak ada pelajaran. Sedangkan dalam meyampaikan materi pelajaran saya jarang menggunakan media pembelajaran, begitu juga perangkat pembelajaran yang lain, misalnya RPP, RPP yang ada hanya sebagai administrasi, pembelajaran tidak sesuai dengan RPP yang ada, Menurut saya kelebihan metode ceramah adalah :
Ø Dengan metode ceramah, guru dapat memantau keadaan kelas, karena kelas sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya saat menyampaikan materi pembelajaran.
Ø Dengan metode ceramah pengorganisasian kelas menjadi lebih sederhana dan praktis, oleh karena tidak membutuhkan persiapan-persiapan yang macam-macam. Asal kan siswa dapat menempati posisi tempat duduknya dan mendengarkan materi pembelajaran yang disampaikan guru, itu sudahlah cukup.
Namun setelah dianalisis metode ceramah ini banyak memiki kekurangan yaitu
Ø Materi yang dikuasai siswa terbatas hanya pada apa yang telah dikuasai dan disampaikan guru. Ini merupakan kelemahan yang paling dominan pada metode ceramah, oleh karena apa yang telah disampaikan guru itulah yang diperolehnya dan dikuasainya,
Ø Penyampaikan ceramah yang tidak dibarengi dengan peragaan dan contoh-contoh hanya bersifat suara dan menbosankan. karena guru dalam penyajiannya hanya mengandalkan bahasa verbal sedangkan siswa hanya mengandalkan kemampuan pendengarannya. Di sisi lain kemampuan siswa secara pendengaran berbeda-beda, termasuk dalam menangkap materi pembelajaran melalui pendengaran.
Ø Kemampuan guru berbicara dan bertutur kata-kata yang tidak baik, acap kali menjemukan dan membosankan siswa, sehingga siswa menjadi tidak memperhatikan materi pembelajaran, mengantuk atau mengobrol dengan teman sebangkunya. Jika mereka diam akan tetapi pikirannya kemana-mana  sebab tidak mengerti dengan apa yang disampaikan guru sebab penyampainnya tidak menarik.
4.        Pengaruh video pembelajaran tersebut bagi saya

Setelah saya menonton vidio tentang pembelajaran di sebuah sekolah di jepang, saya merasa malu terhadap diri saya, karena selama ini saya telah egois terhadap siswa saya. Siswa saya setiap hari saya ceramahi dalam menyampaikan materi. Wajar mereka sering tidak fokus, mengantuk, bercanda dengan temannya. Karena mereka pasif. Namun setelah menonton VIDIO ini saya sangat termotivasi bahwa sebenarnya didalam pembelajaran guru tidak perlu melakukan ceramah banyak-banyak. Biarkan siswa belajar sendiri untuk memahami materi yang diajarkan, seorang guru hanya sebagai fasilatator yang kreatif dalam membimbing dan membuat media pembelajaran.