KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi.

KekuranganKu adalah KeunikanKu

Baguru kapadang data, dapek ruso baling kaki, baguru kapalang aja, nan bak bungo kambang tak jadi

judul post ini seperti seseorang sedang mengetik

kursor mengikuti

judul post ini seperti seseorang sedang mengetik.

Senin, 22 Juni 2015

kopikan ini



<div class="separator" style="clear: both; text-align: center;">
<a href="http://4.bp.blogspot.com/-sfwOXGSlSI4/VVyZ1Boi23I/AAAAAAAAAJY/jvZvlhUnQDM/s1600/Untitled.png" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"><img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-sfwOXGSlSI4/VVyZ1Boi23I/AAAAAAAAAJY/jvZvlhUnQDM/s200/Untitled.png" /></a></div>
<iframe height="500" src="https://docs.google.com/viewer?srcid=0B9YX3xJbiDgDR0F5ZGlzemdGSTA&amp;pid=explorer&amp;chrome=false&amp;embedded=true" width="600"></iframe>

Kamis, 21 Mei 2015

Program Pemberian Bantuan Beasiswa S2 bagi Guru SMP T.A 2015

Rabu, 20 Mei 2015

SI BUAH HATI


TUGAS LEARNING TRAJECTORY KURIKULUM 2013

Kamis, 16 April 2015

Elegi Konferensi Pertama Para Bagawat

Kekuasaan memang demikian menggoda dan banyak orang yang tidak sanggup untuk mengendalikannya. Alih-alih dia menjadi pengendali kekuasaan, sering kali seorang penguasa menjadi budak kekuasaan. Kekuasaan yang sering mendorong seseorang untuk melakukan tindakan-tindakan jahat dan kejam bukan dia lawan, malah dia turuti karena dianggap sebagai kesempatan. Tak heran kiranya jika kemudian tangannya menjadi tangan yang berlumuran darah dan air mata rakyatnya yang dizhalimi. Tangannya menjadi tangan diktator yang mengubur semua aspirasi. Nepotisme menjadi kaidah kekuasaannya, kolusi menjadi kamus pemerintahannya.. Penyimpangan menjadi menu sehari-harinya. Allah murka pada mereka, Allah marah pada mereka.

http://powermathematics.blogspot.com/2011/03/elegi-konferensi-pertama-para-bagawat.html

Elegi Ritual dan Serba-serbi Unas

Ujian Nasional (UNAS) selalu menjadi momok yang menakutkan dan menyeramkan terhadap kalangan pelajar, sehingga mereka stres dan histeris. Tidak hanya siswa saja yang mengalami stres, namun para orangtua, guru, dan kepala sekolah pun ikut stres memikirkan siswanya. Mengapa ? karena, jika siswa tidak lulus UNAS maka mereka tidak dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Bahkan hal-hal unik dan aneh pun dilakukan oleh orangtua dan anaknya, mulai dari sungkeman ke ibu, membasuh kaki orangtua terutama ibu. Hal ini marak dilakukan ketika menjelang UNAS, terutama di daerah dengan harapan mendapat restu dari orangtua, agar diberi kemudahan dan kelancaran dalam menghadapi UNAS. Namun ada hal yang sangat menggelitik hati, ada siswa yang membawa pensil ke dukun, karena takut UNAS. Bayangkan, hanya untuk lulus UNAS sampai-sampai hal yang tidak rasional pun dilakukan Klimaks dampak buruk UNAS adalah detik-detik hasil kelulusan yang mengakibatkan hal yang sangat fatal yaitu kematian. Banyak siswa yang stres karena merasa malu, tertekan, putus harapan, hingga nekat gantung diri. Naudzubillah ! Hal ini tentu sangat miris bagi kita semua, terutama bagi para praktisi dan pemerhati pendidikan. Hanya karena ingin lulus ujian, nyawa seorang siswa harus melayang

Rabu, 15 April 2015

CONTOH PEMAHAMAN MATEMATIKA MENGGUNAKAN TEORI BRUNER


Langkah-langkah pembelajaran
A.  Tahap Enaktif
1.      Pada tahap awal guru memberikan tugas kepada siswa untuk mengidentifikasi contoh dan bukan contoh bangun segitiga yang tersedia dari sekelompok bangun datar (gunakan alat peraga).
B.  Tahap Ikonik
2.      Dari bangun segitiga yang telah diidentifikasi siswa juga diharapkan dapat memberikan contoh dan bukan contoh alas dan tinggi suatu segitiga dan kemudian siswa diarahkan agar dapat mendefenisikan tinggi dan alas suatu segitiga.
3.      Siswa diarahkan untuk menemukan hubungan antara segitiga dan persegi panjang (hubungan panjang dan lebar pada persegi panjang dengan alas dan tinggi pada segitiga).
4.      Dengan cara menggunting siswa akan menemukan hubungan luas persegi panjang dan luas segitiga.
5.      Menemukan hubungan luas segitiga dari luas persegi panjang dengan contoh bangun yang diberikan berikut:





Berapa luas persegi panjang?
Berapa luas segitiganya?
Kesimpulan apa yang dapat diambil?
A.  Tahap Simbolis
1.      Guru mengarahkan siswa untuk membuat generalisasi untuk membangun rumus luas segitiga.













Teori belajar Bruner yaitu melalui model belajar penemuan (Discovery learning) adalah model pengajaran yang dikembangkan berdasarkan kepada pandangan kognitif tentang pembelajaran dan konstruktivisme. Siswa belajar melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk mendapatkan pengalaman dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan mereka menemukan konsep dan prinsip untuk diri mereka sendiri. Namun demikian tidak semua materi matematika dijenjang SD dapat diajarkan dengan menggunakan metode penemuan, dengan demikian seorang guru harus pandai memilih dan mengkaitkan suatu topik pembelajaran dengan metode dan teori belajar yang mendukung sehingga pelaksanaan pembelajaran lebih optimal.

Selasa, 14 April 2015

PETA KONSEP TEORI BELAJAR/ALUR BERPIKIR SISWA

HASIL REVIEW TEORI BELAJAR
A.  Behaviorism theory (Teori Behaviorisme)
1.    Pelopor Teori Belajar Behaviorisme
Tokoh behaviorisme antara lain: JB. Watson, Thorndike, dan BF. Skinner. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia sebagai hasil pembentukan melalui lingkungan. Oleh karena itu, pendidikan pun dianggap sebagai pembentuk perilaku manusia. Sedangkan Thorndike berpendapat bahwa belajar lebih bersifat meningkat bertahap (incremental) daripada karena hadirnya insight (pemahaman). Artinya belajar itu melalui langkah-langkah kecil yang sistematis daripada sebuah lompatan besar.
2.    Belajar menurut Teori Belajar Behavioristik
Menurut teori behaviorisme, belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai akibat dari adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah  belajar sesuatu jika ia dapat menunjukkan perubahan tingkah lakunya. Menurut teori ini yang terpenting adalah masukan atau input yang berupa stimulus dan keluaran atau output yang berupa respons. Dalam teori ini tingkah laku dalam belajar akan berubah apabila ada stimulus dan respons. Stimulus dapat berupa perlakuan yang diberikan kepada siswa, sedangkan respons berupa tingkah laku yang terjadi pada siswa. Oleh karena itu, apa saja yang diberikan guru (stimulus), dan apa saja yang dihasilkan siswa (respons), semuanya harus dapat diamati dan diukur. Faktor lain yang juga dianggap penting oleh aliran behavior adalah faktor penguatan (reinforcement). Penguatan adalah apa saja yang dapat memperkuat timbulnya respon bila penguatan ditambahkan maka respon semakin kuat. Begitu juga bila penguatan dikurangi responpun akan tetap dikuatkan. Misalnya, ketika peserta didik diberi tugas oleh guru, ketika tugasnya ditambahkan maka ia akan semakin giat belajarnya. Maka penambahan tugas tersebut merupakan penguat positif (positive reinforcement) dalam belajar. Bila tugas-tugas dikurangi dan pengurangan itu justru meningkatkan aktifitas belajarnya, maka pengurangan tugas merupakan penguatan negatif (negative reinforcement) dalam belajar.
Penerapan teori behavirorisme yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif , perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan hukuman yang sangat dihindari oleh para tokoh behaviorisme justru dianggap metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
B.  Social Kognitif Theory ( Teori Sosial Kognitif)
Teori pembelajaran sosial adalah perkembangan utama dari tradisi teori pembelajaran perilaku (behaviorisme). Teori belajar sosial dikemukakan oleh seorang tokoh yang bernama Albert Bandura yang lahir pada tahun 1925 di sebuah kota kecil di provinsi Alberta, Canada. Teori pembelajaran sosial (social learning theory) dari Albert Bandura menerima kebanyakan prinsip teori perilaku (behavioristik), tetapi terfokus jauh lebih banyak pada efek isyarat pada perilaku dan pada proses mental internal, dengan menekankan efek pemikiran pada tindakan dan tindakan pada pemikiran. Bandura mengembangkan teori belajar sosial karena ia melihat keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki oleh teori belajar behavioristik yang pada saat itu merupakan teori yang diterima oleh banyak kalangan.
1.    Prinsip faktor-faktor yang saling menentukan
Bandura menyatakan bahwa diri seorang manusia pada dasarnya adalah suatu sistem (sistem diri/self system). Sebagai suatu sistem bermakna bahwa perilaku, berbagai faktor pada diri seseorang, dan peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam lingkungan orang tersebut, secara bersama-sama saling bertindak sebagai penentu atau penyebab yang satu terhadap yang lainnya. Berikut ini dijelaskan interaksi berbagai faktor pembentuk sistem diri (self sistem) pada sebuah bagan.


Interaksi Berbagai Faktor Pembentuk Sistem Diri
Keterangan :
P    = Singkatan dari Personal atau kepribadian seseorang
B   = Singkatan dari Berhavior atau perilaku seseorang
E    = Singakatan dari Environment atau lingkungan luar
Teori belajar sosial menekankan observational learning sebagai proses pembelajaran, yang mana bentuk pembelajarannya adalah seseorang mempelajari perilaku dengan mengamati secara sistematis imbalan dan hukuman yang diberikan kepada orang lain.Dalam teori menjelaskan hubungan timbal balik yang saling berkesinambungan antara kognitif , perilaku ,dan lingkungan. Dalam skema diatas dapat kita lihat,bahwa antara behavioral, environment, dan perception sangatlah memberikan andil dalam proses pembelajaran sosial kita.
Jadi antara behavioral, environment, dan perception sangatlah bergantung satu sama lain,ketiga komponen tersebut tidak dapat berdiri sendiri. Namun antar ketiga komponen itu saling memberikan pengaruh atau saling memberikan perannnya dalam terlaksananya teori pembelajaran sosial.
2.    Kemampuan untuk membuat atau memahami simbol/tanda/lambang
Bandura menyatakan bahwa orang memahami dunia secara simbolis melalui gambar-gambar kognitif, jadi orang lebih bereaksi terhadap gambaran kognitif dari dunia sekitar dari pada dunia itu sendiri. Perilaku-perilaku yang mungkin diperlihatkan akan dapat diduga, diharapkan, dikhawatirkan, dan diuji cobakan terlebih dahulu secara simbolis, dalam pikiran, tanpa harus mengalaminya secara fisik terlebih dahulu. Karena pikiran-pikiran yang merupakan simbol atau gambaran kognitif dari masa lalu maupun masa depan itulah yang mempengaruhi atau menyebabkan munculnya perilaku tertentu.
a.    Kemampuan berpikir ke depan
Orang dapat menduga bagaimana orang lain bisa bereaksi terhadap seseorang, dapat menentukan tujuan, dan merencanakan tindakan-tindakan yang harus diambil untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
b.   Kemampuan untuk seolah-olah mengalami apa yang dialami oleh orang lain
Orang-orang, terlebih lagi anak-anak mampu belajar dengan cara memperhatikan orang lain berperilaku dan memperhatikan konsekuensi dari perilaku tersebut. Inilah yang dinamakan belajar dari apa yang dialami orang lain.
c.    Kemampuan mengatur diri sendiri
Perilaku ini tidak dikerjakan tidak selalu untuk memuaskan orang lain, tetapi berdasarkan standar dan motivasi yang ditetapkan diri sendiri. Tentu saja orang akan berpengaruh oleh perilaku orang lain, namun tanggung jawab utama tetap berada pada diri sendiri.
d.   Kemampuan untuk berefleksi
Mereka umumnya mampu memantau ide-ide mereka dan menilai kepantasan ide-ide tersebut sekaligus menilai diri mereka sendiri.

3.    Pembelajaran Pengamatan (Observational Learning) dalam Teori Belajar Sosial Bandura
Karakteristik dari belajar sosial, yang terbukti sangat penting dan efisien adalah seorang dapat belajar dengan cara memperhatikan model beraksi dan membayangkan seolah-olah ia sebagai pengamat, mengalami sendiri apa yang dialami oleh model. Dari sudut pandang Bandura, orang/pengamat tidak hanya sekedar meniru perilaku orang lain (model), namun mereka memutuskan dengan sadar untuk melakukan perilaku yang dipelajari dari mengamati model.
Menurut Bandura model dan mengulangi perilaku yang dilakukan oleh model bukanlah sekedar imitasi sederhana; pembelajaran observasi juga melibatkan proses kognitif aktif yang meliputi 4 komponen yaitu: atensi, retensi, reproduksi dan motivasi

4.    Konsep-Konsep Penting dalam Kepribadian menurut Bandura
a.    Sistem Diri (Self System)
Bandura mengajukan sebuah konsep yang memiliki peran penting dalam kepribadian, yang ia sebut dengan self-system, satu set proses kognitif yang individu gunakan untuk mempersepsi, mengevaluasi, dan meregulasi prilakunya sendiri agar sesuai dengan lingkungannya dan efektif dalam mencapai tujuan yang ingin dicapai. Oleh karena itu, individu tidak hanya dipengaruhi oleh proses reinforcement eksternal yang disediakan lingkungan, tetapi juga oleh ekspektasi, reinforcement, pikiran, rencana, tujuan atau proses internal dari diri. Aspek kognitif yang aktif dalam diri individu sangat penting dalam pembelajaran. Selain berespon terhadap reinforcement langsung dengan mengubah prilaku di masa depan, orang dapat berpikir dan mengantisipasi pengaruh dari lingkungan. Individu dapat mengantisipasi konsekuensi yang mungkin akan timbul dari perilakunya sehingga mereka memilih tindakan berdasarkan respon yang dihadapkan dari lingkungan dan masyarakat.
b.   Efikasi Diri (Self Efficacy)
self-efficacy adalah ekspektasi keyakinan (harapan) tentang seberapa jauh seseorang mampu melakukan satu perilaku dalam suatu situasi tertenu. Self-efficacy yang positif adalah keyakinan untuk mampu melakukan perilaku yang dimaksud. Tanpa Self-efficacy (keyakinan tertentu yang sangat situasional), orang bahkan enggan mencoba melakukan suatu perilaku. self-efficacy menentukan apakah kita akan menunjukkan perilaku tertentu, sekuat apa kita dapat bertahan saat menghadapi kesulitan atau kegagalan, dan bagaimana kesuksesan atau kegagalan dalam satu tugas tertentu mempengaruhi perilaku kita di masa depan.
5.    Implikasi Teori Bandura dalam Pembelajaran
Proses pembentukan perilaku dari tidak suka belajar menjadi suka belajar dapat dilakukan melalui banyak cara, diantaranya adalah dengan modeling. Kalau siapapun yang ada di rumah atau di ingkungan anak sudah terbiasa belajar sejak kecil maka hal ini akan diobservasi oleh anak secara terus menerus dalam hidupnya. Kemudian anak ini difasilitasi dengan banyak media baik yang alami maupun buatan untuk mendorong minat belajarnya,misalnya berupa buku bacaan, buku tulis dan kelengkapannya, serta media cetak atau audio visual yang ditata secara menarik di rumah atau kelompok kelompok belajar yang ada. Orang tua atau guru atau pembimbing berperan ganda, sebagai model sekaligus sebagai pamong belajar. Tanpa ada ancaman, hukuman, ketegangan, ketakutan akan membuat anak nyaman, tenang, untuk belajar dengan pamongnya. Dominansi kasih sayang, kelembutan, contoh yang nyata, kejujuran, kesantunan, pujian, penghargaan, senyuman akan sangat mendorong munculnya perilaku yang diharapkan. Kesinambungan proses seperti ini akan mengkristal dalam jiwa dan pikir anak sehingga menjadi perilaku yang permanen dalam hidupnya. Tidak akan mudah lekang oleh waktu dan tuntutan zaman yang semakin tidak karuan.
Dengan metode observasi dan modeling yang menjadi ciri utama Teori Bandura  siswa dapat belajar sambil menikmati indahnya alam sekitar ciptaan Yang Maha Pencipta, siswa dapat menghirup segarnya udara di luar kelas dengan sepuas puasnya. Siswa dapat mengembalikan kebugaran fisiknya dengan mengamati banyak objek alami dan fenomena fenomena baru dibawah bimbingan gurunya.Siswa dapat berdiskusi dan adu argumentasi setelah menemukan banyak data di lapangan yang dituliskan dalam tabel pengamatan. Siswa dapat menemukan sendiri pengetahuan baru (inquiry) setelah mengamati dan berdiskusi serta tambahan informasi dari teman dan gurunya. Mereka tidak akan merasakan lelah atau terlalu  lama belajar langsung di alam atau mengamati langsung objek belajar yang asli atau alami. Sekaligus guru dapat memberi penilaian yang sebenarnya dari kemampuan para siswanya setelah melihat, mendengar, mendiskusikan masalah, mengumpulkan data dan  menarik kesimpulan bersama seluruh siswanya. Kondisi siswa yang seperti ini penting untuk dapat mengatasi kejenuhan fisik maupun psikis siswa dalam belajar, karena di metode belajar ini guru mengaitkan  langsung  antara materi pelajaran dengan alam ( yang memiliki komponen biotic berupa makhluk hidup dan komponen abiotik berupa benda mati ) atau kehidupan sehari hari.
Memang diperlukan persiapan dan ketangguhan profesi dari sang guru atau orangf tua  baik berupa fisik maupun psikis dalam menerapkan konsep belajar ini. Hal ini disebabkan karena akan munculnya banyak kreatifitas dan kenyataan kenyataan baru dari konsep ilmu yang diperoleh siswa, yang berbeda jauh dengan teori yang ada di buku atau media belajar cetak maupun elektronik yang lain. Guru akan menjadi sangat capek karena harus melayani banyaknya pertanyaan dan temuan temuan siswa yang mulai tumbuh pola berpikir analitik dan sintetiknya. Kemudian siswa akan terus memburu untuk mendapatkan jawaban dari permasalahan ini,disini kemampuan guru ditantang untuk dapat mengelola setiap permasalahan yang diajukan. Guru dapat menghantarkan siswa untuk membuka buku buku sumber yang ada  pada siswa atau di perpustakaan, membuka internet, memberi kesempatan diskusi pada kelompok, sebelum akhirnya kesimpulan yang benar akan diperoleh dibawah bimbingan guru.

C.  Kognitif Information Processing
Suatu proses yang menyebabkan suatu informasi dapat diingat ataupun dilupakan disebut sebagai suatu model pengolahan informasi. Informasi pertama ditangkap oleh rekaman indera yang diterima oleh masing-masing yakni komponen pertama dalam sistem daya ingat. Setelah itu informasi akan diberi perhatian dan dipindahkan dari rekaman indera ke daya ingat kerja. Daya ingat ini dibagi menjadi daya ingat jangka pendek dan daya ingat jangka panjang. Daya ingat jangka pendek dapat menahan informasi dalam jumlah terbatas hanya bertahan selama beberapa detik (hanya saat itu dipikirkan). Sedangkan daya ingat jangka panjang dapat menahan informasi dalam jumlah banyak atau dapat disimpan dalam kurun waktu yang lama. Daya ingat jangka panjang ini terbagi menjadi tiga bagian diantaranya daya ingat episodik (dari pengalaman pribadi), daya ingat semantik (dari fakta dan pengetahuan umum), dan daya ingat prosedural (dari informasi dalam melakukan sesuatu).
Terdapat beberapa faktor  yang menghambat dan menyebabkan orang dapat mengingat dan melupakan diantaranya gangguan (karena adanya informasi lain dalam daya ingat), hambatan retroaktif (karena adanya pembelajaran informasi baru yang di terima), hambatan proaktif (karena gangguan dari pengetahuan yang sudah ada), dan fasilitasi (karena kehadiran informasi yang diperoleh sebelumnya). Serta faktor lain yang menghambat adalah efek kepertamaan dan kebaharuan artinya lebih mudah mengingat hal yang pertama atau terakhir dalam daftar daripada hal lain, otomatisasi artinya tingkat kecepatan dan kemudahan sehingga tugas-tugas dapat dilakukan atau keterampilan dapat dibekali dengan sedikit upaya mental. Selain daripada hambatan yang dapat melupakan adapula hal-hal yang dapt membuat seseorang mengingat yakni diantaranya dengan latihan yakni metode yang paling umum untuk menempatkan informasi kedalam daya ingat.
Strategi daya ingat dapat diajarkan diantaranya dengan pembelajaran verbal (pembelajaran kata-kata), pembelajaran pasangan-berkaitan, pembelajaran serial (penghafalan serangkaian hal dalam suatu urutan tertentu), dan pembelajaran ingatan bebas (pembelajaran daftar hal dalam urutan sembarang). Informasi yang diterima akan bermakna bila tidak bersifat sewenang-wenang dan hal itu terkait dengan informasi atau konsep yang sudah dimiliki oleh seseorang. Informasi yang bermakna pun akan disipan dalam daya ingat jangka panjang dalam jaringan fakta dan konsep  yang saling terkait yang dapat disebut skemata.
Kemampuan metakognisi dapat membantu siswa dalam belajar. Metakognisi sendiri merupakan pengetahuan tentang pembelajaran diri sendiri  atau cara belajar. Artinya siswa dapat diajarkan untuk menilai pemahaman pada diri sendiri dengan cara mencari tahu berapa banyak waktu yang akan mereka butuhkan untuk  mempelajari sesuatu dan memilih rencana tindakan yang efektif untuk mempelajari sesuatu.
1.    Penerapan Dalam Pendidikan
Tidak seperti teori belajar yang lain, teori pengolahan informasi sebagai suatu bidang pengetahuan tidak diterjemahkan secara langsung untuk keperluan pelaksanaan kurikulum. Penerapannya di kelas cenderung menggunakan suatu konstruk tertentu, konsep, asas, atau kaidah dalam suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya konsep skema dan penggunaan elaborasi telah dipakai dalam mengajarkan membaca. Sedangkan hasil-hasil dari penelitian pemecahan masalah diterapkan dalam pelajaran sains dan matematika.
Soal-soal pelajaran dikelas oleh teori pengolahan informasi ialah yang ada kaitannya secara langsung dengan proses kognitif. Dalam pengelolaan belajar di kelas, menurut teori ini harus dicari tahu perbedaan antar individu, Kesiapan peserta didik untuk belajar, dan motivasi peserta didik mengikuti pelajaran di kelas. Teori pengolahan informasi memberikan persepektif baru dalam pengelolaan pembelajaran yang akan menghasilkan belajar yang efektif. Terutama dalam hal proses kognitif dalam pembelajaran, meliputi :
a.    Mengajarkan pemecahan masalah
b.    Konteks sosial untuk belajar.
Mengembangkan rencana pembelajaran di kelas. Arti penting rancangan pembelajaran dalam pengolahan informasi ialah bahwa makna logis pengetahuan itu diubah menjadi makna psikologi. Makna logis ialah hubungan antara lambang, konsep, dan aturan mengenai bidang ajaran. Makna psikologis ialah hubungan antara lambag, konsep, dan aturan dengan struktur kognitif siswa.
D.  Meaningful Learning Theory(Teori Belajar Bermakna)
David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang terkenal dengan teori belajar bermakna (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Pembelajaran bermakna terjadi apabila seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Dalam proses belajar seseorang mengkonstruksi apa yang telah ia pelajari dan mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam struktur pengetahuan mereka.
Empat tipe belajar menurut Ausubel, yaitu:
1.      Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menmukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada.
2.      Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
3.      Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
4.      Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.
1.      Langkah-langkah Belajar Bermakna Menurut Ausubel
2.      Menentukan tujuan pembelajaran.
3.      Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya).
4.      Memilih materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.
5.      Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.
6.      empelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata/konkret.
7.      Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
E.  Development Approach (Pendekatan Perkembangan Kognitif)
Pendekatan ini di dasarkan pada asumsi atau keyakinan bahwa kemampuan kognitif merupakan sesuatu yang fundamental dan yang membimbing tingkah laku anak. Kunci untuk memahami tingkah laku anak terletak pada pemahaman bagaimana pengetahuan tersebut terstruktur dalam berbagai aspeknya. Ada tiga model perkembangan kognitif ini, yakni:
1.    Model dari Piaget
Piaget berpendapat bahwa perkembangan manusia dapat di gambarkan dalam konsep fungsi dan struktur. Fungsi merupakan mekanisme biologis bawaan yang sama bagi setiap orang atau kecendrungan-kecendrungan biologis untuk mengorganisasi pengetahuan kedalam struktur kognisi, dan untuk beradaptasi kepada berbagai tantangan lingkungan. Tujuan dari fugsi-fungsi itu adalah menyusun struktur kognitif internal. Sementara struktur merupakan interasi (saling berkaitan) system pengetahuan yang mendasari dan membimbing tingkah laku inteligen. Struktur kognitif diistilahkan dengan konsep skema, yakitu seperangkat keterampilan, pola-pola kegiatan yang fleksibel yang denganya anak memahami lingkungan. Piaget mengelompokkannya sebagai berikut:
a.    Organisasi, yang merujuk pada fakta bahwa semua struktur kognitif berinterelasi, dan berbegai pengetahuan baru harus diselaraskan ke dalam system yang ada.
b.    Adaptasi, yang merujukkan pada kecendrungan organisme untuk menyelaraskan dengan lingkungan. Adaptasi ini terdiri atas dua subproses: (1) Asimilasi, yaitu kecendrungan untuk memehami pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada; (2) Akomodasi, yaitu perubahan struktur kognitif krena pengalaman baru. Keadaan saling mempengaruhi antara asimilasi dan akomodasi melahirkan konsep konstruktifisme, yaitu bahwa anak secara aktif menciptakan pengetahuan, dalam arti anak tidak hanya menerima pengetahuan secarapasif dari lingkungan.
2.    Model Pemprosesan Informasi
Pendekatan ini merumuskan bahwa kognitif manusia sebagai suatu system yang terdiri atas tiga bagian: (1) input, yaitu proses informasi dari lingkungan atau stimulasi yang masuk kedalam reseptor-reseptor panca indra dalam betuk penglihatan, suara, dan rasa; (2) Proses, yaitu pekerjaan otak untuk mentransformasikan informasi atau stimulus dalam cara yang beragam; (3) Output, yang berbentuk tingkah laku, seperti bicara,menulis, interaksi sosial, dan sebagainya.
3.    Model Kognisi Sosial
Kognisi sosia dapat di artikan sebagai pengetahuan tentang lingkungan sosia dan hubungan interpersonal. Model ini menekankan pada dampak/pengaruh pengalaman sosial terhadap  pperkembangan kognitif. Tokoh dari pendekatan ini adalah Lev Vygotsky (1886-1934) ahli psikologi dari rusia.

F.   Social Formation Theory (Teori Pembentukan Kelompok sosial)
Ada beberapa teori yang dapat dikemukakan berkaitan dengan pembentukan kelompok. yaitu:
1.    Teori Kedekatan (Propinquity)
Teori kedekatan menjelaskan tentang adanya aliansi diantara orang-orang tertentu. Seseorang berhubungan dengan orang lain disebabkan karena adanya kedekatan ruang dan daerahnya.
2.    Teori Interaksi (George Homans)
a.    Teori interaksi berdasarkan pada aktivitas, interaksi dan sentiment (perasaan atau emosi) yang berhubungan secara langsung. Ketiganya dapat dijelakan sebagai berikut:
Semakin banyak aktivitas seseorang dengan orang lain, semakin beraneka interaksinya dan semakin kuat tumbuhnya sentiment mereka.
b.    Semakin banyak interaksi diantara orang-orang, maka semakin banyak kemungkinan aktivitas dan sentiment yang ditularkan pada orang lain.
c.    Semakin banyak aktivitas dan sentimen yang ditularkan pada orang lain, dan semakin banyak sentiment orang dipahami oleh orang lain, maka semakin banyak kemungkinan ditularkannya aktivitas dan interaksi-interaksi.
3.    Teori Keseimbangan (Theodore Newcomb)
Teori keseimbangan menyatakan bahwa seseorang tertarik kepada yang lain adalah didasarkan atas kesamaan sikap (seperti: agama, politik, gaya hidup, perkawinan, pekerjaan, otoritas) di dalam menanggapi suatu tujuan.
4.    Teori Pertukaran
Teori ini ada kesamaan fungsinya dengan teori motivasi dalam bekerja. Teori kedekatan, interaksi, keseimbangan, semuanya memainkan peranan di dalam teori ini.
Secara praktis pembentukan kelompok bisa saja terjadi dengan alasan ekonomi, keamanan, atau alasan social. Para pekerja umumnya memiliki keinginan afiliasi kepada pihak lain.
Karakteristik yang menonjol dari suatu kelompok antara lain:
a.    Adanya dua orang atau lebih
b.    Berinteraksi satu dengan yang lain
c.    Saling berbagi beberapa tujuan yang sama
d.   Melihat dirinya sebagai suatu kelompok.
Suatu kelompok bisa dinamakan kelompok sosial bila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1.      Memiliki motif yang sama antara individu satu dengan yang lain. (menyebabkan interkasi/kerjasama untuk mencapai tujuan yang sama)
2.      Terdapat akibat-akibat interaksi yang berlainan antara individu satu dengan yang lain (Akibat yang ditimbulkan tergantung rasa dan kecakapan individu yang terlibat)
3.      Adanya penugasan dan pembentukan struktur atau organisasi kelompok yang jelas dan terdiri dari peranan serta kedudukan masing-masing.
4.      Adanya peneguhan norma pedoman tingkah laku anggota kelompok yang mengatur interaksi dalam kegiatan anggota kelompok untuk mencapai tujuan bersama.
G. Representation and Discovery Learning.
Belajar penemuan (discovery learning) merupakan salah satu model pembelajaran/belajar kognitif yang dikembangkan oleh Jerome Brunner (1996). Menurut Bruner, belajar penemuan sesuai dengan pencarian pengetahuan secara aktif oleh manusia, dan dengan sendirinya memberikan hasil yang paling baik. Berusaha sendiri untuk mencari pemecahan masalah serta pengetahuan yang menyertainya, menghasilkan pengetahuan yang benar benar bermakna.
Menurut Brunner, belajar bermakna hanya dapat terjadi melalui belajar penemuan.  Agar belajar menjadi bermakna dan memiliki struktur informasi yang kuat, siswa harus aktif mengidentifikasi prinsip-prinsip kunci yang ditemukan sendiri, bukan hanya menerima penjelasan dari guru saja.
Brunner yakin bahwa belajar penemuan adalah proses belajar di mana guru harus menciptakan situasi belajar yang problematis, mendorong siswa mencari jawaban sendiri, menstimulus siswa dengan pertanyaan-pertanyaan dan melakukan eksperimen. Bentuk lain dari belajar penemuan adalah guru menyajikan contoh-contoh dan siswa bekerja dengan contoh tersebut sampai dapat menemukan sendiri hubungan antar kosep. Menurut Brunner,  belajar penemuan pada akhirnya dapat meningkatkan penalaran dan kemampuan untuk berpikir secara bebas dan melatih keterampilan kognitif siswa dengan cara menemukan dan memecahkan masalah dengan pengetahuan yang telah dimiliki dan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna bagi dirinya.
3.    Tahapan-tahapan penerapan belajar penemuan
a.    Stimulus (pemberian perangsang), kegiatan belajar dimulai dengan memberikan pertanyaan yang merangsang berpikir siswa, menganjurkan dan mendorongnya untuk  membaca buku dan aktivitas belajar lain yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
b.    Problem statement (mengidentifikasi masalah), memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian memilih dan merumuskannya dalam bentuk hipotesis tersebut.
c.    Data collection (pengumpulan data), memberikan kesempatan kepada siswa mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-banyaknya untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis tersebut.
d.   Data processing (pengolahan data), memberikan bimbingan terhadap data yang telah diperoleh siswa melalui kegiatan wawancara, observasi atau lain-lain.
e.    Verifikasi, mengadakan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar tidaknya hipotesis yang diterapkan dan dihubungkan dengan hasil dan pengolahan data.
f.     Generalisasi, mengadakan penarikan kesimpulan untuk dijadikan prinsip umum yang berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama dengan memperhatikan hasil verifikasi.
H.  Constructivism approach (Pendekatan Konstruktivisme)
Konstruktivisme adalah suatu filsafat pengetahuan yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan adalah hasil dari konstruksi (bentukan) manusia itu sendiri.Manusia menkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungan mereka.
Dapatlah dirumuskan secara keseluruhannya pengertian atau maksud pembelajaran secara konstruktivisme adalah pembelajaran yang berpusatkan kepada siswa. Guru berperan sebagai penghubung yang membantu siswa membina pengetahuan dan menyelesaikan masalah. Guru berperan sebagai pereka bentuk bahan pembelajaran yang menyediakan peluang kepada siswa untuk membina pengetahuan baru. Pengetahuan yang dimiliki siswa adalah hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dan bukannya pembelajaran yang diterima secara pasif.
1.    Prinsip-prinsip Pembelajaran Konstruktivisme
a.    Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif
b.    Tekanan dalam proses pembelajaran terletak pada siswa
c.     Mengajar adalah proses membantu siswa
d.   Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir
e.    Kurikulum menekan pada orientasi siswa
f.     Guru adalah fasilitator

I.     Pedekatan Sosial (The Sosial Approach)
Pendekatan yang memperhatikan faktor lingkungan sebagai lingkungan tinggal individu dalam perkembangannya. Titik pangkal dari Approach Sosial ialah mayarakat dengan berbagi lembaganya, kelompok-kelompok dengan berbagai aktivitas. Secara konkrit Approach Sosial ini membahas aspek-aspek atau komponen dari pada kebudayaan  manusia, misalnya keluarga, tradisi, adat istiadat, moralitas, norma-norma sosialnya dan sebagaimana. jadi segala sesuatu yang dianggap produk bersama, milik bersama adalah masyarakat. Tingkah laku individu dapat dipahami dengan memahami tingkah laku masyarakatnya. Misalnya, pada waktu lahir dengan pertolongan bidan, atau dukun bayi, upacara-upacara yang dia lakukan untuk si bayi, apabila anak sudah mulai bicara diajar tatakrama keluarga dan masyarakat. Misalnya bagimana cara makan dan minum, bagaiman cara berpakain dan sebagainya.
J.    Technological Aproach
Pembelajaran dikatakan menggunakan pendekatan teknologis apabila menggunakan pendekatan sistem dalam menganalisis masalah belajar, merencanakan, mengelola, melaksanakan dan menilai. Selain itu pendekatan ini mengejar kemampuan tertentu dan menuntut peserta didik agar mampu melaksanakan tugas-tugas tertentu yang sudah diajarkan , sehingga proses dan rencana hasilnya diprogram sedemikian rupa agar pencapaian hasil pembalajaran dapat dievaluasi dan dapat diukur dengan jelas dan terkontrol. Dari rancangan proses belajar hingga pencapaian hasil diharapkan terlaksana dengan efektif, efisien dan memiliki daya tarik.
Teknologi pendidikan juga dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses . Sebagai contoh suatu produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih konkrit dari sini juga kita lebih memahami bahwa pendekatan tekhnologi bersifat konkret.
Terdapat tiga prinsip dasar dalam teknologi pendidikan sebagai acuan dalam pengembangan dan pemanfaatannya, yaitu : Pendekatan sistem, berorientasi pada peserta didik, dan pemanfaatan sumber belajar.
Prinsip pendekatan sistem berarti bahwa penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran perlu diseain / perancangan dengan menggunakan pendekatan sistem. Dalam merancang pembelajaran diperlukan langkah-llangkah prosedural meliputi : identifikasi masalah, analisis keadaan, identifikasi tujuan, pengelolaan pembelajaran, penetapan metode, penetapan media evaluasi pembelajaran.
Prinsip berorientasi pada peserta didik beratri bahwa dalam pembelajaran hendaknya memusatkan perhatiannya pada peserta didik dengan memperhatikan karakteristik, minat, potensi dari peserta didik. Prinsip pemanfaatan sumber belajar berarti dalam pembelajaran siswa hendaknya dapat memanfaatkan sumber belajar untuk mengakses pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkannya.
Satu hal lagi lagi bahwa teknologi pendidikan adalah satu bidang yang menekankan pada aspek belajar peserta didik. Keberhasilan pembelajaran yang dilakukan dalam satu kegiatan pendidikan adalah bagaimana siswa dapat belajar, dengan cara mengidentifikasi, mengembangkan, mengorganisasi, serta menggunakan segala macam sumber belajar. Dengan demikian upaya pemecahan masalah dalam pendekatan teknologi pendidikan adalah dengan mendayagunakan sumber belajar.
 K. HUBUNGAN BERBAGAI MACAM TEORI BELAJAR
Salah satu tugas guru adalah mengajar. Dalam kegiatan mengajar ini tentu saja tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus menggunakan teori-teori dan prinsip-prinsip belajar tertentu agar bisa bertindak secara tepat. Oleh karena itu mempelajari teori dan prinsip belajar dapat membimbing aktifitas kita dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Dalam perencanaan pembelajaran teori-teori pembelajaran dapat menggunakan batas-batas kemungkinan dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran, pengetahuan tentang teori dan penerapannya dapat membantu seorang guru dalam memilih tindakan yang tepat. Dalam membelajarkan siswa sebenarnya telah banyak teori belajar sebagai dasar berpijak dalam proses belajar. Teori-teori belajar bermunculan seiring dengan perkembangan teori psikologi. Menurut hemat saya ada 4 teori belajar yang paling utama. Pertama pada awalnya muncul lah teori Behaviorisme, teori ini menganalisis manusia hanya dari sisi perilakunya yang tampak, sebab hanya perilaku yang tampak yang bisa diukur, dilukiskan dan dijelaskan. Menurut Behaviorisme teori yang paling menonjol mengenai manusia adalah teori belajar behavioristik. Prinsip dasar belajar menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning. Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan. Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang diamati, diukur dan dinilai secara konkrit. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulan yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulus tidak lain adalah lingkugan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (stimulus – respon). Dalam pelaksanaannya teori belajar ini masih memasukan lingkungan sosial sebagai sumber belajar dan menekan juga pembelajaran yang bermakna dimana suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

Namun seiring dengan kemajuan zaman dan perkembangan ilmu pengetahuan, teori tersebut mempunyai beberapa kelemahan, yang menuntut adanya pemikiran teori belajar yang baru. Dikatakan bahwa, teori-teori behaviorisme itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingaga terkesan seperti kinerja mesin atau robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai kelemahan teori behaviorisme. Teori behavioristik menekankan pada terbentuknya perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Teori behavioristik dengan model hubungan stimulus-responnya, mendudukkan orang yang belajar sebagai individu yang pasif. Respon atau perilaku tertentu dengan menggunakan metode pelatihan atau pembiasaan semata.
Kedua Teori pembelajaran sosial adalah perkembangan utama dari tradisi teori pembelajaran perilaku (behaviorisme). teori kognisi sosial memahami perilaku manusia kita harus memahami bahwa manusia dapat berpikir dan mengatur tingkah lakunya sendiri. Selain itu, banyak aspek fungsi kepribadian yang melibatkan interaksi individu dengan individu lainnya. Perilaku seseorang adalah hasil interaksi faktor dalam diri (kognitif) dan lingkungan. Salah satu asumsi awal yang mendasasi teori kognitif sosial Bandura adalah manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari beragam kecakapan bersikap maupun berperilaku. Dan titik pembelajaran terbaik dari semua adalah pengalaman-pengalaman tak terduga.
Ketiga. Teori belajar perkembangan kognitif ini memfokuskan perhatiannya kepada bagaimana dapat mengembangkan fungsi kognitif individu agar mereka dapat belajar dengan maksimal. Faktor kognitif bagi teori belajar kognitif merupakan faktor pertama dan utama yang perlu dikembangkan oleh para guru dalam membelajarkan peserta didik, karena kemampuan belajar peserta didik sangat dipengaruhi oleh sejauh mana fungsi kognitif peserta didik dapat berkembang secara maksimal dan optimal melalui sentuhan proses pendidikan.
Peranan guru menurut teori belajar kognitif ialah bagaimana dapat mengembangkan potensi kognitif yang ada pada setiap peserta didik. Jika potensi yang ada pada setiap peserta didik telah dapat berfungsi dan menjadi aktual oleh proses pendidikan di sekolah, maka peserta akan mengetahui dan memahami serta menguasai materi pelajaran yang dipelajari di sekolah melalui proses belajar mengajar di kelas.
Menurut Jean Piaget, bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu
a.       Asimilasi yaitu proses penyatuan (pengintegrasian) informasi baru ke struktur kognitif  yang sudah ada dalam benak siswa. Contoh, bagi siswa yang sudah mengetahui prinsip penjumlahan, jika gurunya memperkenalkan prinsip perkalian, maka proses pengintegrasian antara prinsip penjumlahan (yang sudah ada dalam benak siswa), dengan prinsip perkalian (sebagai  informasi baru) itu yang disebut asimilasi.
b.      Akomodasi yaitu penyesuaian struktur kognitif ke dalam situasi yang baru. Contoh, jika siswa diberi soal perkalian, maka berarti pemakaian (aplikasi) prinsip perkalian tersebut dalam situasi yang baru dan spesifik itu yang disebut akomodasi.
c.        Equilibrasi (penyeimbangan) yaitu penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi. Contoh, agar siswa tersebut dapat terus berkembang dan menambah ilmunya, maka yang bersangkutan menjaga stabilitas mental dalam dirinya yang memerlukan proses penyeimbangan antara “dunia dalam” dan “dunia luar”.
Keempat. pembelajaran secara konstruktivisme adalah pembelajaran yang berpusatkan kepada siswa. Guru berperan sebagai penghubung yang membantu siswa membina pengetahuan dan menyelesaikan masalah. Guru berperan sebagai pereka bentuk bahan pembelajaran yang menyediakan peluang kepada siswa untuk membina pengetahuan baru. Pengetahuan yang dimiliki siswa adalah hasil daripada aktivitas yang dilakukan oleh siswa tersebut dan bukannya pembelajaran yang diterima secara pasif. Untuk Social Approach (Pendekatan Sosial, Meaningfull Learning Theory (Teori Pembelajaran Bermakna, Cognitive Information Processing (Proses Informasi Kognitif), Representation and Discovery Learning (Pembelajaran Representasi dan Penemuan), Technological Approach (Pendekatan Teknologi), Social Formation Theory  (Teori Formasi Sosial) semua pendekatan ini sudah terdapat didalam teori belajar diatas.

L.  PETA KONSEP HUBUNGAN BERBAGAI MACAM TEORI BELAJAR